Enterpreneur in Training I (Part -4)

Bali Post, Edisi Minggu 5 Juni 2011 (hal. 3). Sebuah artikel yang ditulis oleh CEO BPR Lestari, Alex P. Candra, dalam kolom Money and I. Mohon ijin untuk dikutip di sini.

ENTERPRENEUR IN TRAINING I  (Part-4)
Leveraging Yourself, by Making a Decision

Bapak/Ibu sekalian, ketika ditanya apa yang membuat saya keep on going in desperate hour, dalam masa-masa sulit, 3 - 4 tahun pertama dalam karir bisnis saya? Apa yang membuat saya tidak menyerah? Jawabannya adalah karena saya tidak punya kemungkinan lain lagi.

I already gave up my career

Saya tidak punya pilihan lain, either I succeed or I die. Begitu kira-kira.

Banyak teman saya yang memulai bisnis part time. Jadi sambil menekuni profesional works-nya, ia 'nyambi' membangun bisnis. Cara ini jarang berhasilnya. Membangun bisnis di awalnya membutuhkan ketekunan. Sama seperti ketika kita menanam benih, awal-awalnya harus dipelihara ekstra ketat. Kemungkinan benih tadi mati sebelum pohonnya tumbuh, besar sekali. Tingkat kesulitan yang paling tinggi ada di awal-awal pendirian sebuah bisnis. Apalagi bisnis kecil dan sifatnya start-up. Nah, teman-teman saya yang nyambi tadi, ketika bisnisnya 'susah', akan gampang sekali untuk menyerah, karena mempunyai pilihan lain. Akibatnya secara alamiah, ia tidak tekun dan gampang menyerah. Sebaliknya bagi orang-orang yang sudah tidak punya pilihan lain, ia lebih tekun, lebih resielence, karena baginya tidak kemungkinan lain. Apakah ia akan berhasil atau mati. Apalagi jika nasib anak istri menjadi taruhannya.

Dalam teori motivasi, decision memegang peranan penting. Decision berasalah dari kata latin, yang artinya memotong (to cut). Ketika seseorang decide (memutuskan) artinya ia memotong kemungkinan yang lain.

Jadi, jika kita ingin me-leverage diri kita, buatlah keputusan (decision). Yang berarti kita memutuskan untuk tidak ada kemungkinan yang lain. Seperti cerita seorang jenderal yang membakar kapalnya, supaya tentaranya termotivasi berperang. Tidak ada jalan lain kecuali bertempur sepenuh hati, karena kapalnya sudah dibakar. Pilihannya adalah maju berperang dan menang, atau mati. Sang tentara tidak bisa pulang lagi karena di belakangnya cuma ada laut, dan kapalnya sudah menjadi abu.

It Takes Time to Succeed

Setelah kegagalan demi kegagalan di masa awal. Setelah pengalaman yang menyakitkan di 3 - 4 tahun pertama, ternyata kemudian bisnis saya mulai tumbuh. Finally, I see the light at the end of the tunnel. Untungnya saya tidak menyerah!

Bapak/Ibu sekalian, membangun bisnis membutuhkan waktu. Sama seperti menanam pohon. Hari ini ditanam, besok belum akan berbuah. Dan panen masih membutuhkan waktu lebih lama lagi. It takes time to succeed!

Saya berani mengatakan bahwa tidak ada instant success. Semuanya membutuhkan proses. Tukul bukan berhasil hanya gara-gara acaranya Empat Mata meledak. Tukul menjadi sukses karena bertahun-tahun berlatih dan tekun di profesinya. Tukul sukses karena bertahun-tahun tekun bersiap-siap. Acara Empat Mata adalah kesempatannya. Sukses adalah pertemuan antara persiapan dengan kesempatan.

Instant Success is twenty years in the making.

But, moral of the story adalah it takes time to succeed. Banyak orang yang gagal karena 'berhenti' dan tidak menyadari betapa dekatnya mereka dengan kesuksesan ketika mereka memutuskan untuk menyerah.

Semoga bermanfaat, salam dahsyat!

posted under | 0 Comments

Belajar dari anak kecil

Pernah melihat anak kecil yang sedang bermain? Apa yang Anda lihat pada saat anak-anak Anda atau anak-anak kecil bermain? Hanya mengeluarkan senda gurau dan keringat? Ataukah ada pelajaran yang bisa kita petik dari anak kecil yang sedang bermain?

Menurut saya ada beberapa hal yang bisa kita ambil hikmah sebagai seorang yang "dewasa" dari anak-anak kecil yang sedang bermain. Mungkin waktu dan "kedewasaan" kita yang membuat kita lupa, bahwa kita pernah mengalami hal-hal yang dialami oleh mereka.

Apabila Anda perhatikan, anak kecil yang sedang bermain, mereka akan mengerahkan segala semangat dan tenaga yang ada pada diri mereka. Berlari sekuat tenaga, melompat setinggi-tingginya, dan bahkan pada saat harus jatuh pun, tenaga dan semangat ini tidak pudar, meskipun apabila terasa sakit, tenaga dan semangat ini akan dikerahkan untuk menangis sekeras-kerasnya. Pernahkah kita sebagai orang dewasa meniru semangat dan tenaga anak-anak kecil ini? Menemui sedikit masalah, kita sudah berputus asa. Marah apabila harapan tidak terlaksana. Cobalah belajar dari anak-anak kecil ini. Tentang semangat mereka. Tentang ke-totalitas-an yang mereka kerahkan pada saat mereka melakukan pekerjaan mereka, bermain. Apakah kita sudah sama dengan mereka. Ber-totalitas dalam segala pekerjaan kita? Ataukah kita telah menjadi manusia yang lemah, mudah menyerah, sedikit harapan, gampang berputus asa? 

Kedua, pada pekerjaan anak kecil, yaitu bermain, mereka merasakan kenyamanan, kesenangan, kegembiraan. Mereka melakukan pekerjaannya dengan senang dan gembira, meskipun mereka tidak tahu apa yang akan mereka dapatkan. Pun, mereka tidak mengerti resiko dari permainan mereka. Sedangkan kita, hanya menimbang segala sesuatu dengan materi dan materi. Segala sesuatu seolah-olah harus diukur dengan materi yang kita dapatkan. Waktu memang berharga, tapi bukan untuk untuk dihargai dengan materi, semuanya. Adakah perasaan senang dan gembira ada pada diri kita, dalam setiap pekerjaan, dalam setiap kehidupan kita? Saya dan Anda pasti pernah merasakan kegembiraan dan semangat yang menyala-nyala pada saat kecil dulu dalam permainan. Kemana hilangnya rasa senang dan gembira itu sekarang?

Selanjutnya, jika Anda perhatikan, anak-anak kecil yang bermain, mereka tidak mudah menyerah. Pada saat mereka harus jatuh, pada saat mereka merasakan sakit, pada saat mereka harus menangis, mereka dengan mudah melupakan segala perasaan itu untuk kembali kepada pekerjaan mereka, bermain. Mereka tidak pernah menaruh dendam terhadap teman sepermainan, meskipun mungkin, karena ketidaksengajaan dari teman sepermainan mereka, mereka merasakan pahitnya permainan. Coba bandingkan dengan diri kita. Angin sepoi yang bertiup, seolah sudah menghancurkan segalanya. Padahal di balik setiap masalah selalu ada jalan keluar, dan setiap manusia tidak dibebani dengan hal-hal di luar kesanggupan mereka. Ayolah, jangan menjadi manusia lemah yang hanya bisa meratapi nasib tanpa berbuat apa-apa. Yang hanya bisa menyalahkan dan mengkambinghitamkan masalah yang menimpa. Yang harus menyimpan dendam karena ego, merasa diri sendiri benar, dan harus ada yang dikorbankan. Kita bisa lebih dari itu. Bangkit! Mulai dari sekarang! Kita bisa menjadi manusia yang lebih baik.

Mungkin masih banyak lagi hikmah yang bisa diambil dari anak kecil yang sedang bermain. Bagaimana menurut Anda?



posted under | 2 Comments

Business is Trust

Bisnis adalah kepercayaan. Ya, sampai hari ini ungkapan itu masih berlaku dan tetap akan berlaku sampai akhir zaman, mungkin. Kepercayaan itu bukan hanya dari sisi bisnisnya saja, tetapi dari segala faktor. Yang saya maksudkan di sini adalah termasuk hubungan kepercayaan antara perusahaan dengan karyawan. Karena "benang" kepercayaan itulah yang akan menghubungkan perusahaan dengan karyawan.

Segala sesuatu yang terucap, merupakan sebuah komitmen di dalam bisnis. Baik itu berupa deal harga, janji temu, dan lain sebagainya. Baik itu tertulis maupun tidak tertulis. "Mulutmu harimaumu", demikian salah satu ungkapan yang mungkin sebagian besar kita paham artinya. 

Sampai saat ini memang, jika sudah menyangkut urusan waktu, terkadang 'masih' agak susah untuk on-schedule. Meskipun sudah dibuat jadwal semaksimal mungkin, masih ada juga tidak tepatnya. Ya, banyak faktor memang. Sampai hari ini pun masih tetap berusaha untuk membenahi hal ini. 

Cuman terkadang yang menyakitkan, jika komitmen itu diabaikan. Misalkan masalah harga. Harga yang sudah deal pada saat aku order barang, diubah secara langsung di nota. Tanpa konfirmasi, tanpa pemberitahuan. Bahkan, pada saat aku konfirmasikan, dengan mudahnya mengingkari deal harga yang sudah disepakati. Terkesan seolah-olah marah. Aku paham, dibutuhkan waktu antara order sampai pengiriman barang. Aku paham, karena barang dalam harga dolar, pada saat pengiriman dolar sudah berubah. Tapi, bukankah sudah merupakan komitmen memberikan harga pada saat aku order barang? Jika kemudian kurs berubah, bukankah lebih baik dan lebih elegan, jika didiskusikan dulu perubahan harganya? Memang, ini menyangkut nilai ribuan dolar, yang penyimpangan sedikit dari kurs akan berpengaruh besar terhadap total nilai rupiah. Tapi komitmen adalah komitmen, bukan?

Tidak ada yang sempurna, pasti. Terkadang aku sendiri pun harus berkorban dan harus rela rugi daripada harus menelan ludah sendiri. Jika memang masih bisa dinegosiasikan, ya berusaha sekuat tenaga untuk negosiasi. Tapi jika sudah menjadi komitmen, apa pun yang terjadi, komitmen itu harus tetap terlaksana.

Kepercayaan itu juga harus dimiliki oleh perusahaan terhadap karyawan dan karyawan terhadap perusahaan. Pada saat seseorang memasuki Javamedia, sesuai dengan kapasitas dan kapabilitasnya, maka manajemen perusahaan akan membuka ruang kepercayaan selebar-lebarnya terhadap karyawan tersebut. Pernah suatu ketika seorang karyawan sempat bingung karena di hari pertamanya bekerja ditinggal sendiri di toko dengan banyak barang dagangan dan uang cash di laci meja. Pada saat itu sedang ada pameran, sehingga sebagian besar karyawan ditarik ke sana. Dia sempat bertanya, "Mengapa Bapak percaya sama saya dan meninggalkan barang-barang dan uang, padahal saya baru hari pertama masuk kerja". Ya, aku jawab saja, "Pada saat seseorang memasuki Javamedia, pada saat itu juga, aku harus percaya dengan dia". Contoh ini mungkin tidak sepenuhnya benar. Mungkin ada resiko yang terlalu tinggi dari contoh di atas. Aku sendiri sadar akan hal itu. Tapi, bukankah "High Risk, High Return"? Dalam hal ini, return-nya adalah tingkat kepercayaan karyawan yang tinggi terhadap perusahaan. Akupun juga melihat situasi dan kondisi pada saat melakukan hal itu, tidak dengan serta merta dan tanpa pertimbangan.

Demikian juga dengan karyawan terhadap perusahaan. Seorang karyawan yang sudah tidak memiliki kepercayaan terhadap perusahaan, niscaya akan merasa tidak nyaman, tidak enjoy, bekerja pada perusahaan tersebut. Yang akan selalu dilihat adalah kesalahan, kesalahan, dan kesalahan. Padahal kesalahan-kesalahan tersebut adalah kesalahan-kesalahan minor sebagai konsekuensi tidak sempurnanya manusia. Namun hal itu akan dibesar-besarkan. Kemudian, dia akan berbuat yang aneh-aneh. Meminta yang tidak-tidak. Merasa dirinya yang paling benar. Yang lebih parah lagi, karyawan tersebut akan berusaha merusak sistem, untuk menunjukkan bahwa sistem tidak bekerja dan dirinya-lah yang benar. 

Sangat disayangkan memang. Padahal terkadang, manajemen perusahaan sudah melihat potensi. Sudah menggali kemampuan yang ada pada dirinya, dan sudah mempunyai rencana terhadap karyawan tersebut. Meskipun mungkin masih disimpan dan belum disampaikan terhadap si karyawan. (baca artikel sebelumnya: Build Your Own Business 2). Tapi penilaian perusahaan / managemen perusahaan terkadang berbalik 180 derajat, justru pada saat seorang karyawan itu berada di puncak, karena ego si karyawan yang mengalahkan dirinya sendiri. 

Ya, itulah sekelumit tentang kepercayaan di dalam bisnis. Membangun bisnis tidak sekadar berjual beli. Membangun bisnis tidak sekadar menggaji atau digaji. Namun, ada kepercayaan di dalamnya, yang menjadi benang yang akan menghubungkan dan merajut bisnis itu menjadi sebuah kain yang indah. Bukankah demikian?

posted under | 2 Comments

Build your own business 2

Ada sebuah artikel menarik yang ingin saya bagi di sini. Diambil dari harian Bali Post, Edisi Minggu 21 November 2010 (hal. 3). Sebuah artikel yang ditulis oleh CEO BPR Lestari, Alex P. Candra, dalam kolom Money and I. Mohon ijin untuk dikutip di sini.

BUILD YOUR OWN BUSINESS 2 
From E to B (Part 2)

Bapak/Ibu sekalian, resiko Start Up bisnis cukup tinggi. Tingkat kegagalan mencapai 96%. Namun ternyata kita ketahui bahwa 90% start up bisnis yang dimulai oleh orang yang sudah berpengalaman berhasil. Kalau kita mencari pengalaman dulu (get yourself experienced), maka secara statistik success ratio kita meningkat menjadi 90%. Jalur alamiah yang saya sarankan bagi setiap orang yang ingin menjadi enterpreneur adalah bekerja dulu pada bidang yang akan kita buat bisnisnya nanti. Pada kuadrannya Kiyosaki, kita bisa memulai dari kuadran E (employee) untuk kemudian berpindah ke kuadran B (business owner).

Ketika saya membangun BPR Lestari, saya memulainya lumayan. Sudah ada orang-orang yang mengenal saya. Mereka mengenal saya dari pekerjaan saya sebelumnya di BCA. Dan lumayanlah, mereka mengenal saya sebagai pekerja yang rajin, tidak korupsi dan bertanggung jawab. Jadi boleh dikata, reputasi yang menjadi prasyarat utama untuk bisa sukses di bisnis, tanpa saya sadari sudah mulai terbangun sejak awal-awal masa saya bekerja.

Ketika kita bekerja, saya menyarankan untuk menganggap perusahaan tempat kita bekerja sebagai perusahaan kita sendiri. Dengan demikian, kita mulai membangun reputasi. Bahkan beberapa 'boss' mempunyai jalur untuk menjadikan para loyal dan dedicated employee-nya menjadi enterpreneur yang sukses. Di Indonesia, banyak eksekutif yang beralih menjadi pebisnis sukses karena di-groom oleh bos-nya. Pak Teddy Rahmat sebelumnya adalah eksekutif di ASTRA, sekarang menjadi salah seorang konglomerat Indonesia, karena diberi kesempatan untuk merintis bisnisnya sendiri bahkan berkongsi dengan keluarga Suryajaya.

Seorang kawan saya, bekerja sekian tahun sampai menjadi direktur operasional, sampai kemudian memutuskan untuk memulai bisnisnya sendiri. Bisnisnya kemudian 'diadopsi' oleh bosnya. Dia dijadikan partner, bisnisnya ditambahi modal, diberikan infrastruktur yang sama dengan bisnis bosnya. Dalam 5 tahun, bisnis kecilnya sekarang sudah menggurita. Waktu 'sendiri' dia hanya bisa menyewa satu buah 'kapal' untuk kemudian disewa-sewakan lagi. Setelah bisnisnya diadopsi, kini ia bisa memiliki kapal sendiri. Tidak tanggung-tanggung, mungkin sekarang perusahaannya memiliki dan mengoperasionalkan lebih dari 10 kapal (1 kapal harganya kurang lebih 20M). Semuanya tercapai dalam waktu singkat, 5 tahun saja.

Brett Godfrey adalah Virgin Express's Chief Financial Officer. Dia adalah seorang Australia. Brett memutuskan 'resign' dari perusahaannya Richard Branson karena akan kembali ke negara-nya Australia. Sir Richard Branson mengatakan "if you want to do anything in Australia, let me know and we'll see what we can do". Brett pulang ke Australia, dan start a low cost carrier di Australia, dengan dukungan dana dan infrastruktur Virgin Group. Brett berkongsi dengan mantan bosnya mendirikan Virgin Blue, a low cost carrier di Australia. Brett sekarang menjadi salah seorang terkaya di Australia ketika umurnya belum mencapai 45! Jadi, jangan ragu untuk mulai sebagai employee.

Always give your best. Watch and Learn. Build your reputation. Remember, the people is watching us. Your boss can be your partner someday.

Semoga bermanfaat, salam dahsyat!

posted under | 0 Comments

Ramadhan

Kau kunanti ketika jauh,
menunggumu pagi dan petang
kau kusambut ketika datang,
dengan suka riang, dan marhaban

hatiku bahgia ketika kau menjelang
tenteram ketika kau datang
ghirah-ku terbakar, menyala-nyala seperti lahar yang terpancar
dari gunung-gunung yang terpancang dan berjalan

shaum-ku adalah sambutan selamat datang
tadarrus-ku adalah lantunan rayuan
qiyam-ku adalah kemesraan
bersatu, menyatu, khusuk dalam jalinan ketakwaan

Namun, hari ini ketika sang surya tenggelam
dan takbir yang tercampur haru biru datang
kau kembali ke haribaan, pergi
tinggalkan tungku hati yang masih terbakar menyala
tingalkan kerinduan yang belum juga sirna

Ramadhan,
semoga tahun depan masih bersua

posted under | 0 Comments

SMS Spam

Beberapa rekan mungkin pernah atau malah sering mendapat SMS dari operator tentang penawaran produk-produk tertentu, baik barang maupun jasa, padahal pada saat kita meregistrasi layanan dari operator tersebut kita tidak pernah menandatangani atau pun menyetujui akan menerima SMS penawaran produk. Bolehlah saya mengkategorikannya sebagai SMS Spam.

Bagi saya, SMS Spam sangat menyebalkan. Ketika berharap mendapatkan SMS dari seseorang, ternyata yang masuk adalah SMS Spam. Belum lagi menuh-menuhin inbox. Untuk yang punya hp dengan memori besar sih, gak masalah dengan inbox sms-nya, tetapi bagi yang memiliki inbox sms dengan memory yang kecil, harus rajin-rajin menghapus sms-nya. Jika tidak, sms akan menggantung di server operator dan tidak segera kita terima di handphone. Pekerjaan sederhana yang menyita waktu.

Yang paling sering mengirimkan sms spam, bagi saya adalah Flexi. Ada panggilan tidak terjawab, dapat SMS. Dulu masih ok-lah, sebagai pemberitahuan ada yang menghubungi kita tetapi tidak dijawab. Tetapi, sekarang sudah berubah menjadi sms komersil. Ada penawaran ini dan itulah sebagai embel-embel. Sempat telepon ke call center flexi untuk menonaktifkan sms pemberitahuan ini, tetapi sampai hari ini masih terus masuk ke inbox dan memenuhi folder sms hp-ku. :( Belum lagi sms penawaran lainnya, yang seolah-olah berasal dari call center flexi (147) tetapi isinya adalah promosi produk. Sehari lebih dari 2 kali saya menerima sms seperti ini. 

Mungkin rekan-rekan lain sudah pernah membahas masalah ini dan mempertanyakan peraturan atau undang-undang untuk SMS Spam ini. Di Internet, spammer tidak dibiarkan bebas berkeliaran. Banned, bahkan sampai black list adalah konsekuensi moral yang akan diterima spammer. Tetapi di Indonesia, sms spam masih terus beredar dan sepertinya akan tetap beredar. Masih menunggu ketegasan dari pemerintah untuk memberantas sms spam.

Haruskah melakukan dan menampung opini publik besar-besaran supaya pemerintah mau membuka mata ya?

posted under | 0 Comments

Penipuan Modus Baru

Tiba-tiba saja nada dering di handphone-ku berdering. Nomornya masih asing, tidak terlisting di kontak. "Selamat Siang, Pak. Silakan menghubungi center di no 021-3xxxx. Mohon dicatat pak ya, nomornya 021-3xxxx". Aku hanya mengangguk-angguk aja. Ada perasaan geli bercampur sedih di dalam hati. Penipuan apa lagi ini?

Nomor yang menelepon adalah nomor gsm biasa, bukan no call center telkomsel atau setidaknya bukan no fixed phone. Cara bicaranya pun tidak mencerminkan seorang customer service. Hanya disuruh menghubungi center di no sekian-sekian. Jikalaupun dari call center telkomsel, pastilah dia langsung bilang tujuan dan maksudnya, tidak menyuruhku menelepon no tertentu. Mungkin no yang dihubungi adalah no Jakarta, tapi jangan salah, Flexi bisa di-combo dan di-divert. Dan kita tidak tahu no asli yang dihubungi apabila no tersebut di-combo atau di-divert.

Untuk rekan-rekan lainnya, waspadalah, waspadalah (hehehehe, niru pesan bang napi). Banyak orang yang mencoba menghalalkan segala cara untuk mencari uang, walau yang tidak halal sekalipun. Padahal Allah yang maha Mengetahui telah mengatur segala urusan hamba-Nya, termasuk masalah rezeki.

Sekali lagi, waspadalah, waspadalah......

posted under | 0 Comments

Apakah saya bekerja hanya untuk memperkaya bos saya?

Sebagian pekerja mungkin akan berpikiran seperti judul di atas, "Apakah saya bekerja hanya untuk memperkaya bos saya? Setiap hari saya harus bangun pagi, bekerja keras, melayani customer, terkadang mendapatkan komplain keras, untuk apa? Apakah hanya untuk memperkaya bos saya?"

Sebagai seorang (yang mungkin boleh disebut sebagai) pengusaha, saya mencoba menjawab dari sudut pandang yang berbeda. Dari sudut pandang saya sebagai pengusaha, mungkin hal yang akan saya coba jawab ini merupakan sebuah ketakutan dari teman-teman pengusaha lainnya, apabila karyawannya menyadari hal tersebut. Namun, Insya Allah, berbagi ilmu akan mendatangkan ilmu tambahan bagi kita.

Apakah saya bekerja hanya untuk memperkaya bos saya?

Sadarkan Anda, setiap hari pada saat bekerja Anda melakukan sebuah rutinitas yang dilakukan berulang-ulang. Berhari-hari, berminggu-minggu, bertahun-tahun, bahkan mungkin berpuluh-puluh tahun. Jika Anda menganggap bahwa rutinitas tersebut "hanya" merupakan sebuah kewajiban yang harus dilaksanakan untuk memenuhi job description dan tanggung jawab, maka Anda salah besar.

Menurut saya, dalam bekerja setidaknya Anda memperoleh 3 manfaat penting dari pekerjaan Anda. Yang akan saya bahas, tentunya bukan upah / gaji yang memang merupakan hak Anda, tetapi ada hal penting lainnya yang merupakan "modal" bagi Anda.

1. Expertice

Untuk menjadi seorang expert di sebuah bidang tertentu, diperlukan pelatihan dan pembelajaran secara terus menerus. Dengan melakukan rutinitas pada pekerjaan Anda, setiap hari level Anda akan bertambah. Saya tidak mengatakan hal ini hanya pada karyawan kantoran atau staff yang menduduki jabatan tinggi saja. Bahkan sampai cleaning service pun, rutinitas setiap harinya akan menambah keahlian dalam bidang pekerjaannya. 

Dan Anda, sebagai seorang karyawan, dengan melakukan rutinitas harian pada pekerjaan Anda, Anda akan menjadi ahli dalam bidang Anda. Setiap hari level Anda akan semakin bertambah dan bertambah, dan baiknya lagi, Anda DIGAJI. Berapa banyak orang di luaran sana, yang ingin menjadi expert di bidang tertentu sampai rela mengeluarkan dana dalam jumlah yang tidak sedikit. Yang saya maksudkan bukan di bidang formal pendidikan, karena sampai hari ini saya masih yakin pendidikan di negeri kita hanya memberikan dasar-dasar keahlian, bukan keahlian itu sendiri. 

Untuk bisa magang di perusahaan tertentu contohnya, banyak mahasiswa-mahasiswa ataupun anak-anak smk yang harus mengeluarkan uang untuk terjun langsung di perusahaan. Untuk apa? Supaya level mereka semakin bertambah. Padahal Anda yang bekerja pada perusahaan, Anda dibayar. Anda digaji untuk melakukan hal tersebut. Bayangkan!


2. Sistem

Pada saat pertama kali saya memulai membuka usaha sendiri, saya memulai dari nol. Nol pengetahuan manajemen, nol pengetahuan pembukuan, dan bahkan hanya sedikit pengetahuan tentang bidang yang akan saya geluti. Hanya karena hobi dan kecintaan saya pada komputer, yang membuat saya nekat untuk membuka usaha sendiri. 

Sedangkan Anda, apabila pada saat ini Anda bekerja, Anda sudah mendapatkan ilmu tentang sistem. Tentang bagaimana menggaji karyawan, tentang bagaimana sistem jadwal libur, bahkan pada tingkatan yang lebih jauh lagi, tentang sistem pembelian maupun penjualan barang, dan lain-lain. Coba buka slip gaji Anda. Ada banyak pos-pos tertulis di situ. Ada gaji pokok, ada tunjangan-tunjangan, ada lembur, dan lain sebagainya. Bukankah itu merupakan sebuah sistem, yang Anda tanpa berpikir, bisa langsung menjiplak dan menjalankannya? Kemudian, coba lihat angka-angka yang ada di sana. Bukankah itu juga merupakan sistem? Bandingkan dengan slip gaji Anda, dua tiga tahun yang lalu. Bukankah ada sistem yang tertera di sana?

Pada saat membuka usaha dengan pengetahuan nol tentang manajemen, saya bingung menerapkan sistem gaji ini karena saya tidak mengetahui standar gaji yang seharusnya diterima oleh karyawan saya. Saya harus meluangkan waktu untuk bertanya ke depan ke belakang, ke kiri dan ke kanan, untuk memperoleh ukuran yang pas, yang bisa saya berikan untuk gaji karyawan. Bayangkan! 

Dan masih banyak lagi sistem-sistem yang kelihatannya mungkin sepele, tetapi pada suatu saat, Anda akan membutuhkannya. Saya yakin itu.


3. Relasi

Sebuah bisnis tidak mungkin ada tanpa relasi. Perusahaan yang bergerak di bidang apapun, membutuhkan relasi untuk menjalankan roda bisnisnya. Saya tidak ingin Anda membatasi relasi di sini dengan sebutan "customer" saja, tetapi saya ingin Anda menerjemahkan relasi dalam bentuk yang seluas-luasnya, sedetail-detailnya.

Tanpa disadari, pada saat Anda bekerja, Anda membuka dan mengetahui, bahkan mungkin diajarkan oleh perusahaan Anda untuk menjalin relasi dan berhubungan dengan orang-orang dan badan usaha. Sekali lagi saya tegaskan, jangan membatasi relasi di sini dengan sebutan "customer" saja. Bahkan tempat cuci mobil perusahaan pun merupakan relasi. Pusat Fotokopi adalah relasi, suplier adalah relasi, dan lain sebagainya. Relasi ini banyak dan berbagai macam bentuknya, jangan menyempitkan maknanya.

Semakin hari, semakin banyak dan akan semakin detail relasi yang Anda dapatkan. Sama seperti expertice, level Anda semakin hari akan semakin tinggi. Akan semakin besar dan banyak relasi Anda. Anda jadi tahu di mana tempat "terbaik" untuk membeli produk A. Anda jadi tahu, di mana tempat termurah untuk memproduksi benda B. 

Dan bahkan tidak sampai hanya di situ saja. Semakin banyak Anda berelasi, semakin Anda berhubungan dengan banyak orang, semakin Anda tahu karakteristik orang-orang. Customer C harus dilayani tepat waktu. Suplier J harganya masih bisa ditawar, dan lain sebagainya. Bahkan pada level yang lebih tinggi, Anda bisa tahu bahwa si A lebih suka ayam daripada ikan, si B tidak suka apabila diajak banyak bicara, dan lain-lain. 


Lalu, apa keuntungan mendapatkan ketiga manfaat tersebut?

Yang pasti, ketiga hal tersebut akan membawa Anda, Insya Allah, menuju ke kehidupan yang lebih baik. Apabila Anda masih bekerja pada perusahaan yang sama, dengan meningkatkanya level Anda, Anda akan semakin diperhatikan dan tentunya, jabatan Anda akan semakin meningkat yang artinya gaji Anda akan semakin besar. 

Apabila Anda hendak bekerja pada perusahaan lain, Anda mempunyai "harga diri" sehingga Anda berani mematok harga untuk diri Anda sendiri. Bukan untuk rakus dan menyombongkan diri, tetapi untuk menghargai diri sendiri.

Apabila Anda hendak membuka usaha sendiri, ketiga modal di atas, cukup untuk memulai, di samping modal dana tentunya. Setidaknya Anda tidak perlu meraba-raba sendiri tentang apa dan bagaimana sebuah perusahaan, seperti yang pernah saya lakukan dahulu. Anda hanya melengkapi, membenahi yang kurang, membuang yang tidak sesuai, dan menambahkan sesuai dengan kebutuhan.

Jadi menurut saya, tidak ada alasan bermalas-malasan dalam pekerjaan. Semakin Anda rajin dan bekerja keras, semakin dekat kesuksesan Anda raih. Ya toh?

posted under | 1 Comments
Posting Lama